Vape vs Rokok, Mana yang Lebih Aman?
Sebagian orang yakin bahwa vape jauh lebih aman dari pada rokok, sementara yang lain beranggapan bahwa keduanya sama-sama merusak paru-paru. Lantas, mana yang lebih aman antara vape dan rokok?
Perlu dicatat, bahwa tidak ada satu pun produk nikotin yang benar-benar "aman" untuk dikonsumsi. Baik vape maupun rokok sama-sama berisiko bagi kesehatan. Jadi kalau ditanya, mana yang lebih aman diantara keduanya? jawabannya adalah tidak ada. Namun, bagi para perokok aktif, vape dapat digunakan sebagai harm reduction, untuk mengurangi dampak kesehatan yang ditimbulkan oleh rokok.
Proses Pembakaran, Sumber Utama Racun pada Rokok
Perbedaan paling mendasar antara vape vs rokok terletak pada bagaimana kedua substansi ini di konsumsi. Rokok konvensional dikonsumsi dengan cara membakar tembakau pada suhu sekitar 600-900°C. Proses pembakaran inilah yang kemudian menghasilkan asap dengan lebih dari 7.000 zat kimia berbahaya, dimana ratusan di antaranya bersifat racun serta puluhan yang terbukti menyebabkan kanker (karsinogenik), seperti tar, karbon monoksida, formaldehida, dan benzena.
Sementara, vape atau rokok elektrik dikonsumsi dengan cara berbeda. Yakni dengan memanaskan cairan (e-liquid) hingga menjadi uap (proses vaporizing), tanpa proses pembakaran. Karena tidak ada pembakaran, vape tidak menghasilkan tar dan karbon monoksida dalam jumlah yang signifikan, dua zat yang menjadi biang kerok utama penyakit jantung dan kanker paru pada perokok aktif. Inilah alasan utama mengapa banyak ahli menilai profil risiko antara rokok vs vape cukup berbeda.
Vape "95% lebih aman", Benarkah?
Kamu mungkin pernah mendengar klaim bahwa vape "95% lebih aman" daripada rokok. Klaim ini sebetulnya bersumber dari laporan Public Health England (PHE) yang dirilis pada tahun 2015 dan diperbarui pada Februari 2021. Dalam laporan Vaping in England, PHE menyimpulkan bahwa vaping secara keseluruhan jauh lebih aman/tidak berbahaya dibandingkan merokok tembakau.
Meski begitu, kamu perlu membaca angka ini secara rasional. Bukan justru menggunakannya sebagai landasan pembenaran atas kebiasaanmu nge-vape. Sebab frasa "95% lebih aman" bukan berarti "95% aman". Maknanya adalah risikonya relatif jauh lebih rendah, tetapi tidak betul-betul nol. Sebuah studi toksikologi yang membandingkan potensi karsinogenik juga menemukan bahwa emisi vape umumnya jauh lebih rendah potensi kankernya dibanding asap rokok. Dengan catatan penting: hanya jika perangkat, cairan, dan cara pakainya benar.
Risiko Vape yang Tetap Harus Kamu Waspadai
Di sinilah banyak orang salah kaprah. Vape tetap punya risiko nyata yang tidak boleh diremehkan. Menurut tinjauan risiko Committee on Toxicity (COT) di Inggris, kekhawatiran utama dari vaping meliputi paparan partikel halus (particulate matter) dan nikotin. Efek jangka panjang dari menghirup bahan perasa (flavoring) pun masih belum sepenuhnya diketahui karena teknologinya relatif baru.
Kamu mungkin ingat kasus EVALI (E-cigarette or Vaping product use-Associated Lung Injury) yang sempat menggemparkan Amerika Serikat beberapa tahun lalu. Penting dicatat, menurut data WHO dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), mayoritas kasus EVALI dikaitkan dengan produk ilegal yang mengandung THC dan terkontaminasi Vitamin E asetat, bukan vape nikotin legal yang terstandar. Artinya, beralih dari rokok ke vape, namun justru menggunakan liquid ilegal dari sumber yang tidak jelas justru dapat memperbesar faktor risiko.
Faktor Nikotin dan Kecanduan
Baik vape maupun rokok sama-sama mengandung nikotin, yakni zat adiktif yang menjadi penyebab utama kecanduan. Jadi kalau kamu berharap dengan pindah ke vape kamu akan bebas dari sifat candu, jawabannya adalah tidak. Bahkan beberapa produk vape modern menggunakan nicotine salt yang memungkinkan kadar nikotin tinggi terasa lebih "halus" di tenggorokan, sehingga justru bisa membuat pengguna mengonsumsi nikotin lebih banyak tanpa mereka sadari.
Nikotin sendiri berbahaya bagi perkembangan otak, terutama pada remaja dan anak muda, serta dapat memengaruhi tekanan darah dan detak jantung. Itu mengapa, kalau kamu bukan perokok, jangan pernah mulai vaping.
Sebab konsep bahwa vape jauh lebih aman/tidak berbahaya hanya relevan untuk perokok aktif yang ingin berhenti total dari kebiasaan buruk mereka. Menurut panduan National Health Service (NHS) Inggris, vape bisa menjadi alat bantu untuk berhenti merokok (smoking cessation) yang efektif, tapi tujuan akhirnya tetap berhenti dari keduanya.
Potret Nyata di Indonesia
Faktanya, Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah perokok terbesar di dunia, dan tren penggunaan vape pun naik pesat dimasyarakat.
Perokok dewasa tembus 70 juta orang. Berdasarkan Global Adult Tobacco Survey (GATS) 2021 yang dirilis Kementerian Kesehatan bersama WHO, total pengguna tembakau di Indonesia mencapai 34,5% populasi dewasa atau sekitar 70,2 juta orang. Dimana jumlah perokok dewasa naik dari 60,3 juta (2011) menjadi 69,1 juta (2021), bertambah hampir 8,8 juta orang hanya dalam satu dekade.
Pengguna vape melonjak hingga 10 kali lipat. Inilah angka yang paling mencolok. Prevalensi pengguna rokok elektrik di Indonesia melonjak tajam dari yang awalnya hanya 0,3% pada 2011 menjadi 3,0% pada 2021, atau setara sekitar 6,6 juta orang dewasa.
Mayoritas pengguna vape adalah dual users. Ingat poin soal penggunaan ganda tadi? Di Indonesia, hal ini jadi masalah yang cukup serius. Menurut data Riskesdas 2018 dan Susenas, lebih dari 95% pengguna vape ternyata juga tetap merokok konvensional. Artinya, alih-alih beralih untuk berhenti total dari merokok, sebagian besar justru menambah sumber paparan racun ke tubuh mereka.
Anak muda jadi kelompok paling rentan. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi perokok usia 10-18 tahun memang turun tipis ke 7,4% (dari 9,1% pada Riskesdas 2018), tapi angka ini masih lebih tinggi dari target nasional. Sementara itu, paparan iklan rokok di internet melonjak lebih dari 10 kali lipat, dari 1,9% (2011) menjadi 21,4% (2021), sebuah pintu masuk yang efektif untuk menarik generasi baru.
Persebaran tertinggi ada di kota besar. Provinsi dengan prevalensi pengguna vape tertinggi adalah DI Yogyakarta (7,4%), Kalimantan Timur (6,0%), dan DKI Jakarta (5,9%). Pola ini menegaskan bahwa vaping erat kaitannya dengan gaya hidup urban dan kalangan terdidik.
Dari data ini kita tahu bahwa di Indonesia penggunaan vape sebagian besar tidak menggantikan rokok. Di masyarakat, kita justru lebih sering menjumpai pola penggunaan ganda (dual use), yaitu tetap merokok sekaligus vaping. Padahal, manfaat pengurangan risiko hanya berlaku kalau para perokok aktif tersebut benar-benar berhenti merokok sepenuhnya, bukan mengonsumsi keduanya secara bersamaan. Sehingga pola ini justru lebih berbahaya. Karena bukannya berkurang, paparan racun justru bertambah.
Jadi, Mana yang Lebih Aman?
Jawabannya adalah TIDAK ADA. Rokok elektrik secara umum memang membawa risiko yang jauh lebih rendah dibanding rokok konvensional, terutama karena tidak adanya proses pembakaran yang menghasilkan tar dan karbon monoksida. Namun, melihat kondisi di Indonesia, di mana lebih dari 95% pengguna vape justru merupakan dual users dan jumlahnya naik 10 kali lipat dalam satu dekade terakhir. Maka pesan terpentingnya tetap sama, yakni pilihan paling aman adalah tidak mengonsumsi keduanya sama sekali.




Posting Komentar